Bagan Myanmar, Surga Arkeologi Budha

Share:
tripsavvy.com
Exsdee, Myanmar merupakan sebuah negara kecil yang masuk dalam kawasan Asia tenggara dengan mayoritas penduduknya penganut agama Buddhisme Theravada yang dianut suku Burma (suku terbesar di Myanmar). 

Tak lepas dari sejarahnya, Suku Burma yang kini menghuni Myanmar dulunya merupakan rakyat Pagan. Pagan sendiri dulunya adalah sebuah kerajaan yang menjadi cikal-bakal berdirinya negara Myanmar (dengan mempersatukan daerah-daerah sekitarnya).

Namun, kerajaan itu kini hanya tinggal sejarah, ibukota dari wilayah kekuasaannya tersebut telah berubah menjadi kota tua yang indah bernama Bagan, Myanmar.

Bagan (pengucapan PəgàN) adalah sebuah kota tua yang terletak di tepi sungai Irrawaddy, di wilayah Mandalay, Myanmar. Berdasarkan literatur sejarah yang ada, kota Bagan mulai dibangun pada sebelum abad ke-10 Masehi oleh penguasa kerajaan Pagan, Sebelumnya wilayah pagan dijuluki Arimaddanapura atau Arimaddana dan juga disebut Tambadipa atau Tas Sade Sa.

Kota yang juga dikenal sebagai kota sejuta pagoda ini, sebelumnya merupakan ibukota dari beberapa kerajaan kuno. Pada masa kejayaannya, yaitu antara abad ke-11 dan abad ke -13, kerajaan pagan memerintahkan untuk membangun ribuan kuil.

Maka berdirilah lebih dari 10.000 kuil Buddha, ada candi, pagoda, dan biara. Bangunan keagamaan itu menyebar di kota Bagan seluas 13 x 8 km. Candi–candi dibangun sebagai tempat ibadah dan belajar bagi para pengikut ajaran Budha dari kawasan Asia (termasuk India)

Akan tetapi  Seiring sejalannya waktu, Zaman keemasan Pagan pun berakhir. Tercatat dalam sejarah, pada tahun 1287 kerajaan Pagan diserbu oleh kerajaan Mongol sehingga menjadikan dari 10.000 candi yang bertebaran saat ini hanya menyisakan sekitar 2.200 candi yang masih berdiri.

Dalam cengkeraman negara Myanmar kota Bagan yang bersejarah itu, kini bertransformasi menjadi objek wisata yang mumpuni di Asia Tenggara. 

Bagan, sekarang, mencakup areal seluas kurang lebih 42 kilometer persegi.  Daerah seluas ini banyak dihiasi dengan ribuan pagoda kuno, stupa, kuil, dan monumen.

Dengan ribuan peninggalan kuil kuil, kota Bagan Myanmar dinobatkan menjadi salah satu situs arkeologi terkaya di Asia Tenggara yang memiliki 2230 monumen yang masih berdiri.

Baca Juga : Banteng Benci Warna Merah Merupakan Persepsi Bodoh Abadi

Tetapi sayangnya ada sekitar 1000 monumen yang sudah jadi reruntuhan akibat termakan waktu dan bencana alam, Pada awalnya terdapat sekitar 4500 monumen, tetapi sebanyak 600 di antaranya hilang terbawa banjir di Ayeyarwady, Irawadi.

Di antara ribuan candi, ada satu pagoda terbesar yaitu pagoda Shwe Zi Gon. Perbedaan mencolok pagoda dari candi adalah, pagoda dibangun dari emas. Selain pusat ibadah pengikut ajaran Budha, kawasan Pagoda Shwe Zi Gon merupakan pusat kota Bagan. 

Walaupun dinobatkan menjadi kota arkeologi terkaya di Asia tenggara, akan tetapi UNESCO menolak memberikan status kota bagan sebagai warisan dunia.

Karena sejak tahun 1990 pemerintah Myanmar telah merenovasi kuil-kuil yang sudah runtuh dengan tujuan untuk menarik wisatawan. Sayangnya, dalam renovasi itu mereka tidak mempertahankan gaya arsitektur asli malahan Mereka menggunakan bahan-bahan bangunan modern .

Nah Bagi masyarakat awam mungkin akan sedikit bingung untuk membedakan antara candi, kuil dan pagoda. Untuk Kuil di dalamnya ada lorong (buat pedagang) dan ada ruang (biasanya berisi patung Buddha untuk berdoa). Sementara, candi adalah bangunan yang biasanya tidak ada ruang untuk berdoa, jadi hanya sebuah bangunan. Sedangkan pagoda adalah bangunan seperti candi tapi memiliki stupa, yang biasanya dilapisi emas.

Tidak ada komentar