Exsdee - Umar bin Abdul Aziz, beliau dikenal dengan gelar Umar II saat menjadi khalifah. Nama lengkapnya adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin Harb bin Umayyah, lahir pada tahun 63 H atau 682 -720 M dan wafat di umur sekitar 37–38 tahun.

Umar bin Abdul Aziz adalah salah seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berkuasa selama 3 tahun pada tahun 717-720 M, terkenal menjadi seorang pemimpin yang sederhana, adil dan dicintai rakyatnya. Perilaku dan perlakuannya tidak seperti pemimpin Bani Umayyah sebelumnya maupun sesudahnya.

Beliau adalah cerminan pemimpin yang dicari semua rakyat menjadi khalifah yang tidak gila akan harta, kekuasaan maupun takhta.

Umar II mendapatkan kekuasaan menjadi seorang khalifah dari Bani Umayyah bukan dari sistem keturunan untuk menjadi penguasa akan tetapi langsung ditunjuk oleh rakyat (Demokrasi).


Biografi Umar bin Abdul Aziz

Ayah Umar II adalah Abdul-Aziz bin Marwan, seorang gubernur Mesir sedangkan Ibunya adalah Laila atau lebih dikenal dengan nama Ummu Asim binti Asim sosok perempuan yang memiliki darah keturunan Khulafa ar-Rasyidin kedua. Berdasarkan nasab ibunya Umar bin Abdul Aziz adalah keturunan generasi ke 3 lebih tepatnya cicit dari Umar bin Khattab pemimpin Islam ke dua setelah wafatnya Rasulullah saw.

Sejarah mengatakan Umar dilahirkan sekitar tahun 682 M. Mengenai tempat kelahiran beliau masih ada pendapat yang bertentangan. Beberapa tradisi menyatakan Umar dilahirkan di Madinah, sedangkan lainnya mengklaim beliau lahir di Halwan, Mesir.

Namun yang jelas Umar II dibesarkan di Madinah, di bawah naungan kakek beliau yaitu Ibnu Umar (Abdullah bin Umar bin Khattab) yang masih saudara dengan kakek beliau yaitu Ashim bin Umar.

Umar bin Abdul-Aziz yang dijuluki Asyaj Bani Umayah (yang terluka di wajahnya), tumbuh di Madinah, dalam naungan Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak.

Umar II tinggal di sana sampai kematiannya ayahnya (abdul aziz bin marwan) setelah itu kemudian ia dipanggil ke Damaskus oleh Abdul-Malik (khalifah pada saat itu) untuk menikahkan Umar dengan anak perempuannya Fatimah.

Tidak lama setelah itu Ayah mertuanya meninggal dan ia diangkat pada tahun 706 sebagai gubernur Madinah oleh khalifah Al-Walid I 

__Silsilah Nasab Umar bin Abdul Aziz__
Menurut tradisi Muslim Sunni, silsilah keturunan Umar dengan Umar bin Khattab terkait dengan sebuah peristiwa terkenal yang terjadi pada masa kekuasaan Umar bin Khattab.

Khalifah Umar bin Khattab sangat terkenal dengan kegiatannya beronda pada malam hari di sekitar daerah kekuasaannya. Pada suatu malam ia mendengar dialog seorang anak perempuan dan ibunya, seorang penjual susu yang miskin.

Kata si ibu “Wahai anakku, segeralah kita tambah air dalam susu ini supaya terlihat banyak sebelum terbit matahari”

Anaknya menjawab “Kita tidak boleh berbuat seperti itu ibu, Amirul Mukminin melarang kita berbuat begini”

Si ibu masih mendesak “Tidak mengapa, Amirul Mukminin tidak akan tahu”.

Balas si anak “Jika Amirul Mukminin tidak tahu, tapi Tuhan Amirul Mukminin tahu”.

Umar yang mendengar kemudian menangis. Betapa mulianya hati anak gadis itu. Kemudian setelah pulang ke rumah, Umar bin Khattab menyuruh anak lelakinya, Asim untuk meminang gadis itu.

Umar bin Khattab berdo'a "Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal pemimpin Islam yang hebat kelak yang akan memimpin orang-orang Arab dan Ajam”.

Asim yang taat tanpa banyak tanya segera menikahi gadis miskin tersebut. Pernikahan ini melahirkan anak perempuan bernama Laila yang lebih dikenal dengan sebutan Ummu Asim. Ketika dewasa Ummu Asim menikah dengan Abdul-Aziz bin Marwan dan lahirlah Umar bin Abdul-Aziz.

__Karier Kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz__
715 – 715: Era Al-Walid I
Dimasa kepemimpinan khalifah Al Walid I, Umar sudah menjadi gubernur Madinah dan memiliki reputasi terpandang, beliau dapat membuat hasil dengan membentuk sebuah dewan untuk meminimalkan keluhan keluhan masyarakat Madinah.

Bahkan diceritakan banyak penduduk Iraq berimigrasi ke Madinah agar mendapat kesejahteraan gubernur Umar karena tekanan kejam Al Hajaj bin Yusuf (gubernur Iraq).

Disebabkan Hal tersebut menjadikan kemarahan Al-Hajjaj, dan ia (Al Hajaj) menekan Al-Walid I untuk memberhentikan Umar.

715 – 717: Era Sulaiman
Walaupun sudah dipecat sebagai gubernur Umar tetap tinggal di Madinah selama masa sisa pemerintahan Al-Walid I dan kemudian dilanjutkan oleh saudara Al-Walid, Sulaiman.

Sulaiman, yang juga merupakan sepupu Umar selalu mengagumi Umar, dan menolak untuk menunjuk saudara kandung atau anaknya sendiri pada saat pemilihan khalifah dan mulailah kepimpinan khalifah Umar bin Abdul Aziz atas pilihan khalifah Sulaiman.

__Pelantikan Menjadi khalifah__
Umar menjadi khalifah setelah menggantikan Sulaiman yang wafat pada tahun 716 M. Menjelang wafatnya khalifah Sulaiman, penasihat kerajaan yang bernama Raja’ bin Haiwah bertanya: "Wahai Amirul Mukminin, antara perkara yang menyebabkan engkau dijaga di dalam kubur dan menerima syafaat dari Allah di akhirat kelak adalah apabila engkau tinggalkan untuk orang Islam khalifah yang adil, maka siapakah pilihanmu?". Jawab Khalifah Sulaiman: "Aku melihat Umar Ibn Abdul Aziz". 

Surat wasiat tersebut akhirnya diarahkan supaya ditulis nama Umar bin Abdul-Aziz sebagai penerus kekhalifahan, tetapi dirahasiakan dari kalangan menteri maupun keluarga.

Sebelum wafatnya Sulaiman, ia (Sulaiman) memerintahkan agar para menteri dan para gubernur berbai’ah dengan nama bakal khalifah yang tercantum dalam surat wasiat tersebut. 

Umar bin Abdul aziz di bai'at sebagai khalifah pada hari Jumat setelah salat Jumat. Hari itu juga setelah ashar, Seluruh umat Islam berkumpul di dalam masjid dalam keadaan bertanya-tanya, siapa khalifah mereka yang baru.

Raja’ Ibn Haiwah (penasihat khalifah sebelumnya) mengumumkan, "Bangunlah wahai Umar bin Abdul-Aziz, sesungguhnya nama engkaulah yang tertulis dalam surat ini".

Umar bin Abdul-Aziz bangkit seraya berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya jabatan ini diberikan kepadaku tanpa bermusyawarah dahulu denganku dan tanpa pernah aku memintanya, sesungguhnya aku mencabut bai’ah yang ada dileher kamu dan pilihlah siapa yang kalian kehendaki".

Umat Islam tetap menghendaki Umar sebagai khalifah dan Umar menerima dengan hati yang berat, hati yang takut kepada Allah dan tangisan.

__Pemerintahan Umar bin Abdul-Aziz__
Zaman pemerintahannya berbilang sangat berhasil bukan hanya memulihkan keadaan negaranya yang terlihat rusak namun Umar II dapat kondisikan negaranya seperti saat keempat khalifah pertama (Khulafaur Rasyidin) memerintah.

Banyak ahli sejarah menjuluki ia sebagai Khulafaur Rasyidin ke-5. Akan tetapi sangat disayangkan bahwa kepemimpinan Khalifah Umar tidak berlangsung lama, beliau hanya memerintah selama tiga tahun kurang sedikit. 

Umar Ibn Abdul Aziz mulai menjadi khalifah pada usia 36 tahun sepanjang tempoh 2 tahun 5 bulan 5 hari, masa pemerintahannya termasuk masa keemasan Bani Umayyah.

Pada waktu kekhalifahan diduduki Umar, dikatakan tiada siapa pun umat Islam yang layak menerima zakat sehingga harta zakat yang menggunung itu terpaksa diiklankan kepada siapa yang tiada pembiayaan untuk pernikahan dan juga hal-hal lain. 

__Hari-hari terakhir Umar bin Abdul-Aziz__
Umar bin Abdul-Aziz wafat pada usia sekitar 37–38 tahun disebabkan oleh sakit akibat diracun oleh pembantunya sendiri. 

Sebelum wafat beliau pernah ditanya: “Wahai Amirul Mukminin, tidakkah engkau mau mewasiatkan sesuatu kepada anak-anakmu?”

Umar Abdul Aziz menjawab: "Apa yang ingin kuwasiatkan? Aku tidak memiliki apa-apa" 

"Mengapa engkau tinggalkan anak-anakmu dalam keadaan tidak memiliki?" 

"Jika anak-anakku orang soleh, Allah-lah yang menguruskan orang-orang soleh. Jika mereka orang-orang yang tidak soleh, aku tidak mau meninggalkan hartaku di tangan orang yang mendurhakai Allah lalu menggunakan hartaku untuk mendurhakai Allah"

Pada waktu lain, Umar bin Abdul-Aziz memanggil semua anaknya dan berkata: "Wahai anak-anakku, sesungguhnya ayahmu telah diberi dua pilihan, pertama : menjadikan kamu semua kaya dan ayah masuk ke dalam neraka, kedua: kamu miskin seperti sekarang dan ayah masuk ke dalam surga (kerana tidak menggunakan uang rakyat). 

"Sesungguhnya wahai anak-anakku, aku telah memilih surga." 

Anak-anaknya ditinggalkan tanpa bergelimpang harta sangat berbeda dibandingkan anak-anak gubernur lain yang kaya raya.

Akan tetapi setelah kejatuhan masa Bani Umayyah dan masa-masa setelahnya, keturunan Umar bin Abdul-Aziz adalah golongan yang kaya berkat doa dan tawakal Umar bin Abdul-Aziz.