Negarakertagama, Kitab Buddha Kuno Bukti Kehebatan Indonesia

Share:
anakbuton.wordpress.com
Exsdee, Negarakertagama (Nāgarakṛtâgama) atau juga disebut dengan istilah Desawarnana (Deśawarṇana) merupakan kakawin Jawa Kuno karya Empu Prapanca seorang pujangga masyhur berkeyakinan Buddhisme. Bahkan kakawin ini dikatakan menjadi salah satu sumber munculnya istilah Pancasila yang dijadikan fundamental oleh negara kesatuan republik Indonesia.

Negarakretagama ditulis dalam bentuk kakawin (syair) Jawa kuno, terdiri dari 98 pupuh yang dibagi dalam dua bagian, masing-masing bagan terdapat 49 pupuh.

Kakawin negarakretagama pertama kali ditemukan pada tahun 1894 oleh Jan Laurens Andries Brandes dalam wujud naskah lontar. Brandes merupakan seorang ilmuwan Belanda yang mengiringi ekspedisi KNIL di Lombok, ia menyelamatkan isi perpustakaan sebelum istana dibakar oleh tentara KNIL. 

Berdasarkan bukti penelitian, naskah kakawin negarakretagama selesai ditulis pada bulan Aswina  1287 tahun saka atau 1365 M, sang pujangga menggunakan nama Prapanca sebagai nama pena kakawin tersebut. 

Setelah melakukan diteliti diketahui bahwa Empu Prapanca memiliki nama asli Dang Acarya Nadendra, Dang Acarya Nadendra dikenal sebagai bekas pembesar urusan agama Buddha di kerajaan Majapahit, ia adalah putera  pejabat istana dengan pangkat jabatan Dharmadyaksa Kasogatan. 

Baca Juga : Fakta Sepatu Kaca Dalam Kesalahan Penulisan Naskah Cinderella

Negarakretagama mangandung arti "Negara dengan Tradisi yang suci". Sebenarnya Nama Negarakretagama itu sendiri tidak ditemukan dalam isi kakawin tersebut tetapi nama tambahan yang dimasukkan oleh penyalin Arthapamasah pada bulan Kartika tahun saka 1662 (1740 M) dalam  terbitan Dr. J.L.A. Brandes: Iti Negarakretagama Samapta. 

Sang pujangga Empu Prapanca memberi hasil ciptaannya dengan sebutan Deçawarnana dengan arti uraian tentang desa-desa. Namun, nama yang diberikan oleh pengarangnya tersebut terbukti telah dilupakan oleh umum malahan nama kakawin tersebut lebih dikenal dengan sebutan Negarakretagama tambahan dari hasil salinan pertama.

Kakawin ini bersifat puja sastra, artinya karya sastra menyanjung dan mengagung-agungkan Raja serta kewibawaan kerajaan. 

Dalam isi Kakawin ternyata menguraikan keadaan keraton Majapahit dalam masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk, raja agung di tanah Jawa dan juga Nusantara yang kokoh bertakhta selama 39 tahun yaitu dari 1350 hingga 1389 M. Bagian terpenting naskah kakawin mengungkapkan mengenai menguraikan daerah-daerah kerajaan Majapahit yang harus menyerahkan upeti. 

Karena bersifat puja sastra, hanya hal-hal yang baik yang dituliskan, hal-hal yang merugikan kewibawaan Majapahit dilewatkan begitu saja. Karena tersebutlah peristiwa Pasunda Bubat tidak disebutkan dalam Negarakretagama, meskipun itu adalah peristiwa bersejarah dalam kerajaan majapahit.

Sejak awal ditemukan oleh J.L.A. Brandes, naskah asli nagarakertagama sempat disimpan di Leiden dan diberi nomor kode L Or 5.023. kemudian saat kunjungan Ratu Juliana, Belanda ke Indonesia pada tahun 1973, naskah kakawin diserahkan kepada Republik Indonesia dan disimpan di Perpustakaan Nasional RI dengan kode NB 9. Kakawin Nagarakretagama pada tahun 2008 diakui sebagai bagian dalam Daftar Ingatan Dunia (Memory of the World Programme) oleh UNESCO.
____________________
https://id.wikipedia.org/wiki/Kakawin_Nagarakretagama

Tidak ada komentar