Sejarah dan Hukum Ziarah Kubur

Ziarah kubur merupakan salah satu tradisi yang sering dilakukan oleh masyarakat islam di jawa. Ziarah Kubur adalah tradisi yang sudah sangat tua. tradisi ziarah kubur itu berpijak pada keyakinan untuk memberikan penghormatan terhadap leluhur atau nenek moyang.

Pada hari tertentu, umat Islam menyempatkan diri untuk berziarah kubur tidak hanya bersilaturahmi saja dengan kerabat yang masih hidup, tetapi juga dengan yang telah meninggal dunia.

Seperti halnya pada Hari santri 22 Oktober 2021, Santri TPQ Darul Falah desa Tamangede Gemuh Kab. Kendal bersama para ustadz dan peserta KKN RDR 77 Kelompok 1 diarahkan ziarah kubur di tokoh agama yang dulunya pernah berjuang meningkatkan pendidikan santri di TPQ setempat.

Ketika berziarah, mereka akan berdoa untuk orang tua maupun kerabat yang sudah meninggal dunia dan memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan semasa hidupnya, dan meminta agar mereka yang sudah meninggal dunia akan diterima amal baiknya.

Sejarah Ziarah Kubur

Ketika Rasulullah masih hidup, saat masa awal Islam berkembang dan masih rapuh, Rasulullah melarang adanya ziarah kubur bagi umatnya. Larangantersebut bukan tanpa sebab, Terdapat kekhawatiran pada diri Rasulullah dengan ziarah akan menjadi kesalahpahaman yang menjerumuskan kepada kemusyrikan. Mengingat kala itu kondisi keimanan umat Islam masih rentan dan masih didominasi dengan pola pikir Jahiliyah yang kental akan kepercayaan menyembah berhala.

Seiring berjalannya waktu, larangan berziarah ke kubur akhirnya dihilangkan. Rasulullah pernah bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam bukunya Sunan Turmudzi nomor 973, “Hadits dari Buraidah ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda “Saya pernah melarang berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad telah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang berziarahlah..! karena hal itu dapat mengingatkan kamu kepada akhirat.”

Berdasarkan hadis tersebut, Rasulullah pernah melarang umatnya berziarah ke kubur. Namun kemudian beliau memerintahkan umatnya untuk berziarah ke kubur. Diperbolehkannya berziarah kubur dengan ketulisan niat untuk mengingatkan kita akan kematian dan akhirat.

Hukum Ziarah kubur

Hukum Ziarah kubur jika berdasarkan hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi diatas memiliki dua sisi yaitu haram dan sunnah.

Menurut Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nihayatuz Zain menuliskan bahwa disunahkan berziarah kubur, “Barang siapa yang menziarahi makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari jum’at, maka Allah mengampuni dosa-dosanya dan dia dicatat sebagai anak yang taat dan berbakti kepada kedua orang tuanya...”

Berziarah ke kubur memang disunahkan, bahkan berpahala setimpal dengan haji mabrur apabila yang diziarahi adalah kubur keluarganya, dan bila orang tersebut rutin melakukan kebiasaan tersebut hingga akhir hayatnya, maka kelak malaikatlah yang akan menziarahi makam orang tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra;

Rasulullah saw bersabda “Barang siapa berziarah ke makam bapak atau ibunya, paman atau bibinya, atau berziarah ke salah satu makam keluarganya, maka pahalanya adalah sebesar haji mabrur. Dan barang siapa yang istiqamah berziarah kubur sampai datang ajalnya maka para malaikat akan selalu menziarahi kuburannya.”

Selain menziarahi makam keluarga, menurut pendapat Ibnu Hajar al-Haytami dalam kitab ‘al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra’, berziarah ke makam para wali dan orang saleh merupakan sebuah kebaikan yang dianjurkan. Meskipun demikian, ada pengecualian bagi kaum muslimah, berziarah ke kubur dihukumi makruh apabila mereka memiliki perasaan yang lemah. Sebab kelemahan hati kaum hawa tersebut dapat mempermudah mereka merasa resah, gelisah dan susah sehingga akan menangis di kuburan.

Namun meskipun islam saat ini sudah disempurnakan dan umat sudah memiliki keyakinan yang kuat tetap haram berziarah kubur dengan niatan yang buruk atau bahkan menyekutukan Allah, seperti meminta sesuatu terhadap orang yang sudah meninggal (yang sedang diziarahi).


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama